Hoaks di Media Sosial: Fenomena yang Meningkat di Akhir Tahun dan Pentingnya Cek dan Ricek

  • Nov 10, 2025
  • Abdilla Mahardika
  • EDUKASI DAN LITERASI

Hoaks di Media Sosial: Fenomena yang Meningkat di Akhir Tahun dan Pentingnya Cek dan Ricek 

Di momen-momen mendekati akhir tahun, aktivitas di media sosial biasanya meningkat: promo, bantuan, program nasional, hingga isu-sensitif mulai ramai beredar. Sayangnya, periode ini juga sering dimanfaatkan untuk menyebarkan hoaks atau informasi palsu/menyesatkan yang berpotensi merugikan masyarakat.

Menurut data dari Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) dan Komisi Digital (Komdigi), sepanjang tahun 2024 tercatat sebanyak 1.923 konten hoaks yang diidentifikasi di berbagai platform digital. (Saber Hoaks) Sementara itu, bulan Oktober menjadi salah satu puncak tertinggi penyebaran hoaks, yaitu ditemukan 215 konten hoaks di bulan tersebut. (Saber Hoaks)
Tulisan di situs resmi Sekretariat Kabinet pernah menegaskan bahwa “maraknya berita-bohong dan palsu (hoaks) bergerak viral di tengah-tengah masyarakat” dan bahwa fenomena ini sangat memengaruhi kepercayaan masyarakat terhadap media sosial maupun institusi. (Setkab)

Jadi, bukan hanya soal konten yang salah — tapi soal dampak sosial: mis-infor­masi yang tersebar luas bisa menimbulkan kebingungan, kepanikan, kerugian ekonomi, bahkan pelanggaran hukum.


Contoh Hoaks Terbaru: “Pemutihan Tunggakan BPJS Kesehatan”

Salah satu contoh konkret hoaks yang beredar adalah klaim soal pemutihan tunggakan iuran BPJS Kesehatan. Beredar di media sosial narasi bahwa peserta tinggal mendaftar melalui link tertentu untuk menghapus atau memutihkan tunggakan iuran tanpa syarat dan gratis. (Liputan6)

Namun penjelasan resmi menunjukkan bahwa klaim ini tidak benar. Sebagai contohnya:

  • Situs cek fakta Liputan6 mengungkap bahwa banyak postingan menyertakan form digital yang meminta data pribadi seperti nama lengkap sesuai KTP, nomor ponsel, akun Telegram, bahkan mengarahkan ke situs yang bukan situs resmi BPJS Kesehatan. (Liputan6)

  • Artikel Murianews menjelaskan bahwa link-link tersebut bukan berasal dari institusi resmi, melainkan modus kejahatan digital (phishing/pencurian data). (murianews.com)

  • Komdigi juga mencatat bahwa tautan pendaftaran pemutihan tunggakan BPJS Kesehatan yang beredar termasuk hoaks. (Kementerian Komunikasi dan Digital)

  • Faktanya, pemutihan tunggakan hanya berlaku untuk peserta yang pindah komponen (misalnya dari peserta mandiri ke peserta yang dibantu) dan belum dihapus secara general seperti yang diklaim di hoaks. (tirto.id)

Dengan demikian, masyarakat perlu sangat berhati-hati terhadap narasi yang terdengar “terlalu bagus untuk jadi benar” seperti “gratis pemutihan tunggakan tanpa syarat”.


Bahaya dari Membuka Aplikasi atau Link yang Diminta oleh Pelaku Hoaks

Membuka link, mendaftarkan data, atau menginstal aplikasi yang disarankan oleh penyebar hoaks bisa membawa beberapa risiko nyata bagi pengguna internet, antara lain:

  1. Pencurian data pribadi (phishing)
    Formulir palsu yang meminta nama lengkap, nomor telepon, KTP, alamat, atau akun Telegram bisa digunakan untuk identitas-fraud atau kejahatan online. Seperti pada kasus link pemutihan BPJS di atas: link mengarah ke web yang bukan resmi dan meminta data pribadi. (Turnback Hoax)

  2. Infeksi virus atau malware perangkat lunak
    Link atau aplikasi yang tidak resmi dapat menyisipkan malware ke smartphone/laptop pengguna — yang memungkinkan pelaku mengambil alih perangkat, mengintip data, atau menambahkan biaya tersembunyi.

  3. Penyalahgunaan akun media sosial atau aplikasi chat
    Setelah data atau akses telah diperoleh, pelaku bisa menggunakan akun korban untuk menyebarkan hoaks lebih lanjut atau melakukan penipuan ke kontak korban (misalnya teman/keluarga). Akun yang diambil alih bisa merugikan orang terdekat korban.

  4. Kerugian finansial langsung atau tidak langsung
    Karena data pribadi bocor, korban bisa menerima penawaran palsu, dipaksa membayar “biaya pendaftaran”, atau menjadi target investasi/penipuan lainnya. Di sisi lain, korban yang percaya hoaks bisa membuat keputusan salah yang merugikan (misalnya berhenti membayar iuran karena dianggap akan dihapus, dan akhirnya mendapat konsekuensi non-aktif).

Karena itu, membuka link atau aplikasi yang “menjanjikan sesuatu yang terlalu bagus” — terutama yang meminta data sensitif — sangatlah berisiko.


Mengapa Sikap Cek & Ricek Sangat Penting

Masyarakat pengguna internet perlu membiasakan sikap kritis terhadap informasi yang diterima dan dibagikan. Beberapa poin penting:

  • Pastikan sumber informasi berasal dari institusi resmi atau media yang kredibel. Misalnya untuk isu BPJS, silakan cek dari situs resmi BPJS Kesehatan atau Kominfo.

  • Jangan langsung klik link yang datang melalui pesan berantai, media sosial, atau chat tanpa memastikan kebenarannya.

  • Bandingkan dengan fakta/cek fakta dari lembaga independen atau situs cek fakta.

  • Pikirkan efek jika data pribadi Anda diminta — “Apakah memang perlu?”, “Apakah institusi resmi meminta formulir seperti ini?”

  • Ingat: di era digital, jumlah hoaks sangat besar. Misalnya: “Sepanjang tahun 2024, Komdigi mencatat 1.923 konten hoaks, dengan puncak Oktober 215 konten.” (Kementerian Komunikasi dan Digital)

  • Jadikan langkah verifikasi sebagai bagian dari budaya digital sehat: sebelum membagikan berita, pastikan Anda sudah mengecek kebenarannya.

Seperti yang diingatkan dalam artikel bahwa hoaks merupakan “propaganda negatif, upaya yang disengaja dan sistematis untuk membentuk persepsi, memanipulasi pikiran atau kognisi, dan mempengaruhi langsung perilaku agar memberikan respon sesuai yang dikehendaki pelaku.” (babelprov.go.id)
Jika kita mudah menyebarkan tanpa cek, maka kepercayaan sosial bisa runtuh dan masyarakat rentan terhadap manipulasi. (Setkab)


Penutup

Menjelang akhir tahun, sibuknya aktivitas di media sosial, banyaknya program pemerintah/bantuan/promosi, dan rasa antisipasi “kesempatan langka” sering menjadi ladang subur bagi hoaks. Dengan memahami modus-modnya — seperti tautan palsu “pemutihan tunggakan BPJS” — dan menyadari risiko membuka link/aplikasi dari sumber tak jelas, kita bisa memperkuat pertahanan diri sebagai pengguna internet.

Ingatlah: setiap pengguna internet adalah bagian dari sistem — jika kita tidak berhati-hati, maka hoaks akan terus menyebar dan merugikan banyak orang. Dengan sikap cek & ricek, verifikasi sumber, dan berhati-hati terhadap permintaan data pribadi, kita dapat mencegah menjadi korban dan juga mencegah turut menyebarkan hoaks.

Mari bersama-sama membangun literasi digital yang kuat — agar informasi yang kita terima, kita bagikan, dan kita proses adalah benar-benar dapat dipercaya. Jangan biarkan hoaks menguasai ruang publik kita.
Semoga kita semua menjadi pengguna media sosial yang cerdas.