Hukum Bayar Zakat di Sekolah: Sah, Boleh, atau Justru Tidak Sesuai Syariat? Ini Penjelasan Lengkapnya!

  • Feb 27, 2026
  • FERINDA ARIS SUZANDI
  • EDUKASI DAN LITERASI

 

Zakat merupakan salah satu rukun Islam yang wajib ditunaikan oleh setiap muslim yang telah memenuhi syarat. Kewajiban ini ditegaskan dalam Al-Qur’an, salah satunya pada QS. At-Taubah ayat 60 yang menjelaskan tentang golongan penerima zakat (asnaf). Dalam praktiknya, zakat dapat disalurkan secara langsung kepada mustahik (penerima zakat) atau melalui lembaga resmi, termasuk lembaga pendidikan seperti sekolah.

Lalu, bagaimana hukum membayar zakat di sekolah menurut Islam? Berikut penjelasan lengkapnya.


1. Pengertian dan Dasar Hukum Zakat

Secara bahasa, zakat berarti suci, tumbuh, dan berkah. Secara istilah, zakat adalah sejumlah harta tertentu yang wajib dikeluarkan oleh seorang muslim dan diberikan kepada golongan yang berhak menerimanya sesuai ketentuan syariat.

Dasar hukum zakat antara lain:

  • Al-Qur’an (misalnya QS. Al-Baqarah: 43 dan QS. At-Taubah: 60)

  • Hadis Nabi Muhammad ﷺ

  • Ijma’ (kesepakatan ulama)

Zakat hukumnya wajib (fardhu ‘ain) bagi setiap muslim yang telah memenuhi syarat, yaitu:

  • Beragama Islam

  • Merdeka

  • Memiliki harta yang mencapai nisab (batas minimal)

  • Harta tersebut telah mencapai haul (1 tahun) untuk jenis zakat tertentu


2. Apakah Boleh Membayar Zakat di Sekolah?

a. Jika Sekolah Sebagai Tempat Pengumpulan

Membayar zakat di sekolah hukumnya boleh (mubah) selama:

  1. Zakat tersebut disalurkan kepada golongan yang berhak (asnaf) sesuai QS. At-Taubah: 60.

  2. Pengelolaan dilakukan secara amanah dan transparan.

  3. Sekolah bertindak sebagai perantara (amil zakat) atau bekerja sama dengan lembaga resmi seperti Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) atau LAZ (Lembaga Amil Zakat).

Dalam hal ini, sekolah berfungsi sebagai amil (pengelola zakat). Amil termasuk salah satu golongan penerima zakat, sebagaimana disebutkan dalam QS. At-Taubah: 60.

Namun, idealnya sekolah memiliki izin atau bekerja sama dengan lembaga resmi agar penyaluran sesuai dengan aturan syariat dan regulasi negara.


b. Jika Zakat Digunakan untuk Kepentingan Sekolah

Di sinilah perlu kehati-hatian.

Zakat tidak boleh digunakan untuk:

  • Membangun gedung sekolah

  • Membeli fasilitas umum sekolah

  • Membayar gaji guru (kecuali guru tersebut termasuk fakir/miskin dan menerima dalam kapasitas sebagai mustahik)

  • Kegiatan operasional sekolah secara umum

Karena zakat hanya boleh diberikan kepada 8 golongan (asnaf):

  1. Fakir

  2. Miskin

  3. Amil

  4. Muallaf

  5. Riqab (hamba sahaya)

  6. Gharim (orang berutang untuk kebutuhan halal)

  7. Fisabilillah

  8. Ibnu sabil

Sebagian ulama memperluas makna fisabilillah, namun mayoritas ulama klasik membatasinya pada perjuangan di jalan Allah (jihad dan kepentingan umat yang jelas). Dalam praktik modern, sebagian ulama kontemporer membolehkan zakat untuk pendidikan Islam jika penerimanya adalah fakir/miskin atau dalam kategori fisabilillah yang sah secara syariat.

Artinya, zakat boleh digunakan untuk:

  • Membantu siswa kurang mampu

  • Beasiswa bagi siswa yatim atau dhuafa

  • Bantuan pendidikan bagi keluarga miskin

Tetapi bukan untuk kepentingan institusi sekolah sebagai lembaga.


3. Bagaimana dengan Zakat Fitrah di Sekolah?

Zakat fitrah adalah zakat yang wajib dibayarkan menjelang Idul Fitri.

Boleh membayar zakat fitrah melalui sekolah dengan syarat:

  • Sekolah menyalurkannya kepada fakir dan miskin.

  • Penyaluran dilakukan sebelum salat Id.

  • Tidak digunakan untuk kas sekolah.

Jika sekolah menahan atau menggunakan dana tersebut untuk kepentingan internal, maka itu tidak sah sebagai zakat.


4. Hukum Membayar Zakat Profesi melalui Sekolah

Sebagian guru atau pegawai mungkin membayar zakat profesi melalui sekolah.

Zakat profesi menurut sebagian ulama kontemporer dianalogikan dengan zakat penghasilan, dan jika telah mencapai nisab, wajib dikeluarkan.

Hukumnya:

  • Boleh jika sekolah hanya sebagai perantara.

  • Lebih utama jika melalui lembaga resmi seperti Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) atau LAZ yang terdaftar.


5. Kesimpulan Hukum

  1. Membayar zakat di sekolah hukumnya boleh, selama:

    • Disalurkan kepada 8 golongan asnaf.

    • Dikelola secara amanah dan transparan.

    • Tidak digunakan untuk kepentingan umum sekolah.

  2. Tidak boleh jika:

    • Digunakan untuk pembangunan atau operasional sekolah.

    • Tidak jelas penyalurannya.

    • Tidak sesuai dengan ketentuan syariat.

  3. Zakat tetap sah selama memenuhi:

    • Niat

    • Harta mencapai nisab

    • Diberikan kepada yang berhak


Penutup

Zakat adalah ibadah yang memiliki dimensi spiritual dan sosial. Oleh karena itu, penyalurannya harus tepat sasaran dan sesuai dengan ketentuan syariat Islam. Sekolah boleh menjadi perantara zakat, tetapi tidak boleh mengubah fungsi zakat menjadi dana operasional lembaga.

Dengan memahami hukum ini, umat Islam dapat menunaikan zakat secara benar, sehingga harta menjadi bersih, berkah, dan memberi manfaat bagi yang membutuhkan.