Kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail: Cikal Bakal Kewajiban Ibadah Haji Bagi Umat Islam

  • May 05, 2025
  • Abdilla Mahardika
  • KEAGAMAAN

Keteladanan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail dalam Kepatuhan kepada Allah SWT: Cikal Bakal Ibadah Haji Umat Islam

Kisah Nabi Ibrahim AS dan putranya, Nabi Ismail AS, adalah salah satu kisah agung dalam sejarah umat Islam yang mengajarkan tentang keteguhan iman, kepasrahan total, dan ketaatan yang luar biasa terhadap perintah Allah SWT. Kisah ini tidak hanya menjadi pelajaran tentang kesalehan pribadi, tetapi juga menjadi fondasi spiritual dari salah satu rukun Islam: ibadah haji.

Nabi Ibrahim AS dikenal sebagai sosok nabi yang memiliki kedekatan luar biasa dengan Allah. Setelah bertahun-tahun menanti keturunan, Allah menganugerahkan seorang anak bernama Ismail dari istrinya Hajar. Kehadiran Ismail membawa kebahagiaan besar dalam hidup Nabi Ibrahim. Namun, ujian dari Allah pun datang. Dalam mimpi, Nabi Ibrahim diperintahkan untuk menyembelih anak yang sangat dicintainya itu sebagai bentuk pengorbanan dan bukti ketaatan tertinggi kepada Sang Pencipta.

Tanpa ragu dan dengan penuh keimanan, Nabi Ibrahim menyampaikan mimpi tersebut kepada Ismail. Menakjubkan, Ismail yang saat itu masih muda tidak menolak. Ia justru berkata dengan tegas dan penuh keyakinan: “Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” (QS. Ash-Shaffat: 102).

Ketaatan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail kepada perintah Allah adalah bentuk kepasrahan total, tanpa syarat, dan tanpa protes. Ketika Nabi Ibrahim hendak menyembelih putranya, Allah menggantinya dengan seekor domba sebagai bentuk penghargaan atas kepatuhan mereka berdua. Inilah yang kemudian menjadi dasar ibadah kurban dalam Islam yang dilakukan pada hari raya Idul Adha.

Namun, kisah pengorbanan tersebut bukanlah satu-satunya bentuk ujian besar yang dijalani Nabi Ibrahim. Sebelumnya, beliau diperintahkan untuk membawa Hajar dan Ismail yang masih bayi ke padang tandus bernama Makkah. Tanpa air dan tumbuhan, Hajar dengan penuh keyakinan mencari air hingga akhirnya Allah mengabulkan doanya dengan memancarkan air zamzam di bawah kaki Ismail.

Kisah ini kemudian menjadi bagian dari rangkaian ibadah haji, seperti sa’i antara bukit Shafa dan Marwah yang meneladani perjuangan Hajar, serta penyembelihan hewan kurban yang meneladani pengorbanan Nabi Ibrahim dan Ismail. Ibadah haji sendiri diperintahkan kepada umat Islam yang mampu untuk melaksanakannya, sebagaimana firman Allah SWT: "Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu bagi orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah." (QS. Ali Imran: 97).

Dengan demikian, kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail bukan hanya menjadi cerita sejarah, tetapi juga menjadi cermin nilai-nilai keimanan, kepasrahan, dan keteguhan hati dalam menjalani perintah Allah. Setiap muslim yang menjalankan ibadah haji sejatinya sedang menapak jejak spiritual Nabi Ibrahim, Nabi Ismail, dan Hajar, menjadikan kepatuhan dan pengorbanan mereka sebagai teladan sepanjang masa.

Saat ini musim haji tahun 2025 sudah dimulai. Ratusan Jamaah haji dari Indonesia mulai berdatangan ke Arab Saudi, beberapa warga desa Jambangan juga ada yang mengikuti ibadah haji ditahun 2025 atau 1446 H ini. Semoga semuanya menjadi haji yang mabrur.