Lailatul Ijtima MWC NU Dampit Teguhkan Aswaja dan Soliditas Ranting NU se-Kecamatan

  • Jan 06, 2026
  • Wahyu Cahyono
  • KEAGAMAAN

DAMPIT – Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC NU) Kecamatan Dampit kembali menggelar kegiatan rutin Lailatul Ijtima sebagai forum konsolidasi keagamaan dan organisasi warga Nahdliyin. Kegiatan ini dipusatkan di Masjid Nurul Hidayah, Dusun Grangsil, pada Minggu malam, 4 Januari 2024, dimulai pukul 18.00 WIB hingga 20.30 WIB, dan diikuti dengan antusias oleh pengurus serta jamaah dari berbagai wilayah di Kecamatan Dampit.
Lailatul Ijtima merupakan agenda rutin MWC NU yang berfungsi sebagai wadah silaturahmi, penguatan pemahaman ke-Aswaja-an, serta penguatan koordinasi antar pengurus NU di tingkat kecamatan dan ranting. Kegiatan ini dihadiri oleh jajaran Pengurus MWC NU Kecamatan Dampit, pengurus Ranting NU se-Kecamatan Dampit, tokoh agama, takmir masjid, remaja masjid, serta masyarakat sekitar.
Rangkaian acara dipandu oleh Ustadz Ali Murtadlo, Ketua Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) Kecamatan Dampit. Acara diawali dengan doa iftitah, dilanjutkan dengan shalat Maghrib berjamaah yang menjadi simbol kebersamaan dan ukhuwah Islamiyah di kalangan warga NU.
Setelah shalat berjamaah, acara dilanjutkan dengan sambutan tuan rumah oleh bpk Gito yang mewakili  Takmir Masjid Nurul Hidayah Dusun Grangsil. Dalam sambutannya, disampaikan apresiasi atas kepercayaan yang diberikan kepada takmir dan remaja masjid sebagai tuan rumah kegiatan Lailatul Ijtima. Kegiatan ini dinilai sebagai momentum penting dalam mempererat hubungan antara jamaah masjid, pengurus NU, dan masyarakat.
Sambutan berikutnya disampaikan oleh ustad Samsul muarif  Ketua Tanfidziah MWC NU Kecamatan Dampit, yang menegaskan bahwa Lailatul Ijtima bukan sekadar agenda rutin, melainkan forum strategis dalam menjaga soliditas organisasi. Melalui pertemuan ini, komunikasi antar pengurus MWC NU dan Ranting NU dapat terjalin dengan baik, sekaligus memperkuat kesamaan visi dalam menjaga ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja) sebagai manhaj keagamaan warga NU.
Memasuki acara inti, jamaah mengikuti pengajian kitab yang disampaikan oleh Ustadz Ibadurrahman. Dalam penyampaiannya, dijelaskan bahwa fondasi keagamaan warga Nahdlatul Ulama bertumpu pada tiga pilar utama, yakni akidah (ushuluddin dan tauhid), tasawuf, serta fiqih dan ushul fiqih.
Pada aspek akidah, dijelaskan bahwa mayoritas umat Islam Indonesia, khususnya warga NU yang bermazhab Syafi’i, berpegang pada akidah Ahlussunnah wal Jama’ah dengan corak Asy’ariyah dan Maturidiyah. Akidah ini menempatkan dalil naqli sebagai dasar utama, dengan peran akal sebagai penguat dalam memahami ajaran Islam. Pemahaman tentang sifat-sifat Allah, kemurnian Al-Qur’an sebagai Kalamullah, serta konsep iman menjadi bagian penting dalam pendidikan akidah NU.
Dalam bidang tasawuf, dijelaskan bahwa NU mengamalkan tasawuf sunni yang moderat dan berlandaskan syariat. Ajaran tasawuf yang dirujuk pada pemikiran Imam al-Ghazali menekankan pentingnya penyucian jiwa dari sifat-sifat tercela, serta pengamalan akhlak mulia dalam kehidupan sehari-hari. Tasawuf diposisikan sebagai praktik yang seimbang antara aspek lahiriah dan batiniah dalam beragama.
Sementara itu, pada aspek fiqih, dijelaskan bahwa warga NU secara umum mengikuti mazhab Imam Syafi’i, yang dikenal komprehensif dan moderat. Kitab-kitab fiqih klasik yang berkembang di pesantren menjadi rujukan utama dalam memahami hukum Islam dan praktik ibadah.
Kegiatan Lailatul Ijtima ini ditutup dengan doa yang dipimpin oleh Kyai Mashuri, selaku Rais Syuriah MWC NU Kecamatan Dampit. Secara keseluruhan, kegiatan ini menjadi sarana penguatan tradisi keilmuan, pemantapan pemahaman Aswaja, serta upaya menjaga persatuan dan kekompakan warga Nahdliyin di Kecamatan Dampit.