Legenda Danyang Rondho Kuning: Penjaga Hutan Tepian Kali Grangsil

  • Dec 05, 2025
  • Abdilla Mahardika
  • HIBURAN

Legenda Danyang Rondho Kuning: Penjaga Hutan Tepian Kali Grangsil

Di sebuah sudut sunyi Dusun Grangsil, Desa Jambangan, terdapat sebuah tempat yang oleh warga setempat dianggap angker sekaligus keramat. Tepat di tepian Kali Grangsil yang berair deras—di bawah lereng hutan yang terjal dan seakan membelah bumi—berdiri sebuah petilasan tua yang oleh masyarakat disebut "Pangonan Danyang Rondho Kuning". Meski tampak sederhana, tempat itu menyimpan kisah lama yang diwariskan turun-temurun. Kisah tentang seorang leluhur perempuan yang hidup di antara manusia dan penghuni alam gaib: Rondho Kuning.

Asal-usul Rondho Kuning

Menurut pepunden desa, kisah ini bermula ratusan tahun silam, ketika kawasan Grangsil masih berupa hutan belantara yang lebat. Siang hari terasa gelap tertutup daun-daun besar, dan malam hari menjadi ladang suara-suara makhluk yang tak bernama. Di tengah hutan itu hidup seorang perempuan yang dikenal sebagai Nyai Darsih, seorang janda muda yang kehilangan suaminya secara misterius.

Suaminya, seorang pemburu tangguh bernama Reksodimejo, hilang saat berburu harimau di hutan Grangsil. Sejak saat itu Nyai Darsih hanya mengenakan kain berwarna kuning—warna kesukaan suaminya. Karena ia selalu tampil dengan pakaian kuning, penduduk sekitar kemudian menjulukinya Rondho Kuning.

Kesedihan mendalam membuat Nyai Darsih memilih tinggal jauh dari perkampungan, menetap di tepian sungai Grangsil. Ia membuka lahan kecil untuk berladang dan bertahan hidup dari hasil alam. Ketika para *babat alas* pertama datang membuka hunian, Nyai Darsih-lah yang membantu mereka memahami tanda-tanda hutan: arah angin, suara hewan, hingga letak sumber mata air.

Namun yang membuat nama Rondho Kuning menjadi legenda bukan sekadar karena ia hidup menyendiri, melainkan karena kehadiran makhluk besar yang selalu mengikutinya…

Harimau Jantan Sang Pengawal Nyai Rondho Kuning

Suatu malam, para perintis desa yang tinggal tidak jauh dari hutan mendengar raungan harimau yang menggema panjang. Raungan itu bukan suara biasa; nadanya memiliki ritme, seperti panggilan. Keesokan harinya, beberapa orang yang tengah melintas di tepi sungai melihat sesosok harimau jantan besar berwarna belang emas, duduk bersila layaknya manusia, mengawasi Rondho Kuning yang sedang mengambil air sungai.

Orang-orang ketakutan, namun takjub karena harimau itu tidak menyerang. Justru hewan itu tampak tunduk, seolah menjadi penjaga yang setia.

Mereka kemudian percaya bahwa harimau itu bukan sekadar binatang, melainkan perwujudan dari suami Rondho Kuning, yang kembali dalam rupa leluhur penjaga hutan. Semasa hidup Reksodimejo adalah pemburu yang disegani, dan banyak cerita bahwa ruh seorang pemburu yang mati di tengah hutan akan kembali menjadi macan gaib untuk menjaga wilayahnya.

Sejak hari itu, orang-orang mulai menyebut Rondho Kuning sebagai "Danyang", penjaga gaib wilayah Grangsil.

Kehilangan yang Mengubah Takdir

Legenda menyebutkan bahwa pada suatu malam hujan besar mengguyur hutan Grangsil. Sungai meluap, lereng-lereng longsor, dan pepohonan tumbang. Orang-orang memilih mengurung diri di rumah, namun Rondho Kuning tidak terlihat. Pagi setelah banjir reda, warga menemukan bekas tapak harimau yang mengelilingi sebuah batu besar di tepi sungai. Namun Rondho Kuning sudah tidak ada.

Sebagian percaya ia ditelan longsor, sebagian yakin ia “dijemput” oleh makhluk halus penunggu hutan.

Namun sejak hilangnya Rondho Kuning, banyak kejadian ganjil mulai terjadi. Suara gamelan halus terdengar dari dalam hutan pada malam tertentu. Aroma bunga kanthil bercampur kemenyan menyebar di udara. Dan kadang, tampak bayangan perempuan berkain kuning menyeberangi sungai tanpa menyentuh air.

Para sesepuh desa akhirnya menyadari bahwa Rondho Kuning telah sepenuhnya menjadi Danyang, penjaga yang gaib, yang tetap mengawasi hutan dan penduduk meski raganya telah hilang.

---

Tempat Keramat di Lereng Terjal

Petilasan Rondho Kuning—tempat ia biasa bermeditasi dan meletakkan sesaji untuk arwah suaminya—kemudian dianggap keramat. Tempat itu berada di pinggir sungai, tepat di bawah lereng hutan yang terjal, seakan menjadi pintu masuk antara dunia manusia dan alam makhluk halus.

Siapa pun yang turun ke sana harus berhati-hati. Banyak warga yang pernah merasakan kehadiran sosok gaib berupa angin panas yang berhembus tiba-tiba, atau suara langkah hewan besar meski hutan tampak sunyi.

Meski terkesan menyeramkan, warga percaya tempat itu dipenuhi energi perlindungan. Setiap orang yang memasuki area itu wajib menjaga sikap dan tidak boleh berkata kasar.

Ritual Malam 10 Suro

Sejak masa leluhur, setiap tanggal 10 Asyuro (Suro) warga Dusun Grangsil mengadakan ritual penghormatan kepada danyang dan para leluhur babat alas. Acara utama adalah Tayub Beksan—tarian sakral yang dibawakan para penari dengan selendang kuning, melambangkan warna kebesaran Rondho Kuning.

Pada malam itu, para penari tidak boleh sembarangan memilih selendang: warna kuning dianggap “pemanggil”, simbol bahwa Danyang Rondho Kuning hadir ikut menonton.

Konon, beberapa penari yang paling halus gerakannya kadang tiba-tiba menari lebih indah dari biasanya, seolah tubuhnya digerakkan oleh kekuatan lain. Sesepuh desa percaya bahwa itu tanda Rondho Kuning sedang “menitis” sesaat untuk meramaikan upacara.

Gamelan tayub yang berdentang pelan di tengah hutan membuat suasana semakin mistis. Sesekali terdengar raungan samar, seolah harimau gaib ikut mengawasi dari balik pepohonan.

Penduduk tidak takut. Sebaliknya, mereka percaya bahwa pada malam itu, seluruh desa sedang dilimpahi restu dan perlindungan.

Wasiat dari Leluhur Grangsil

Para sesepuh selalu mengingatkan generasi muda:

> “Selama kalian menjaga hutan Grangsil, maka Danyang Rondho Kuning dan harimau penjaganya akan menjaga kalian.”

Hutan tidak boleh ditebang sembarangan, sungai tidak boleh dicemari, dan tempat keramat tidak boleh dirusak atau diperlakukan seenaknya.

Warga percaya bahwa jika suatu saat hutan ini dibiarkan rusak, bencana akan terjadi. Lereng yang terjal bisa runtuh, sungai bisa meluap, dan desa bisa kehilangan pelindung gaibnya.

Danyang Rondho Kuning Hingga Kini

Walau zaman telah modern, legenda Rondho Kuning masih hidup di hati warga Dusun Grangsil. Banyak penduduk mengaku pernah melihat bayangan perempuan berkain kuning berjalan di tepi sungai pada malam-malam tertentu. Ada juga yang mendengar langkah kaki hewan besar mengitari petilasan menjelang upacara Suro, meski tidak tampak wujudnya.

Hingga kini, setiap keluarga yang hendak membuka lahan baru atau memulai pembangunan rumah sering datang ke petilasan Rondho Kuning untuk meminta restu. Bukan untuk menyembah, namun untuk menghormati leluhur yang dahulu membuka jalan bagi kehidupan masyarakat di Grangsil.

Dan setiap malam 10 Suro, petilasan itu kembali hidup—diterangi lilin, harum kemenyan, dan gemerincing selendang kuning para penari tayub yang seolah menari tidak hanya di hadapan manusia, tapi juga di hadapan Danyang yang telah menjaga wilayah itu selama ratusan tahun.

---