Maraknya Hoaks di Media Sosial: Ancaman Nyata di Era Digital dan Pentingnya Literasi Kepada Masyarakat Agar tidak Mudah Mempercayai Hal-hal yang Berbau Viral
- Dec 28, 2025
- Abdilla Mahardika
- EDUKASI DAN LITERASI
Maraknya Hoaks di Media Sosial: Ancaman Nyata di Era Digital
Perkembangan media sosial seperti TikTok, YouTube, Instagram, Facebook, hingga berbagai platform pesan instan telah membawa perubahan besar dalam cara masyarakat memperoleh informasi. Di satu sisi, media sosial memudahkan akses berita dan mempercepat penyebaran informasi. Namun di sisi lain, kemudahan ini juga dimanfaatkan oleh pihak-pihak tidak bertanggung jawab untuk menyebarkan hoaks atau informasi palsu yang menyesatkan.
Hoaks kini dikemas semakin meyakinkan, sering kali memanfaatkan nama pejabat publik, program bantuan sosial (bansos), isu bencana, hingga teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). Berikut ini adalah beberapa contoh hoaks yang marak beredar di berbagai media sosial dan perlu diwaspadai masyarakat.
1. Hoaks Perekrutan Petugas SPPG di Dapur MBG
Salah satu hoaks yang cukup banyak beredar adalah informasi tentang perekrutan petugas SPPG di Dapur MBG. Narasi ini biasanya disebarkan melalui unggahan Facebook, WhatsApp, atau TikTok dengan klaim adanya lowongan kerja resmi. Dalam unggahan tersebut sering disertakan tautan pendaftaran yang mengarahkan masyarakat ke situs tidak resmi atau formulir mencurigakan.
Padahal, informasi tersebut tidak pernah diumumkan secara resmi oleh instansi terkait. Hoaks semacam ini berpotensi merugikan masyarakat karena bisa digunakan untuk penipuan, pencurian data pribadi, atau pemerasan dengan dalih biaya administrasi.
2. Hoaks Pendaftaran Bansos Bantuan Rp900 Ribu
Hoaks lain yang sangat sering muncul adalah pendaftaran bansos bantuan Rp900 ribu. Biasanya disertai narasi seolah-olah pemerintah membuka pendaftaran bansos baru dengan jumlah bantuan yang menggiurkan.
Ciri khas hoaks ini antara lain:
-
Menggunakan kata-kata sensasional seperti “TERBARU”, “RESMI”, atau “SEGERA DAFTAR”.
-
Menyertakan tautan palsu.
-
Mengatasnamakan kementerian atau lembaga pemerintah.
Faktanya, penyaluran bansos memiliki mekanisme dan jalur resmi, serta tidak dilakukan melalui pendaftaran sembarangan di media sosial.
3. Hoaks Pendaftaran KIS Gratis
Hoaks pendaftaran Kartu Indonesia Sehat (KIS) Gratis juga sering menjerat masyarakat. Informasi palsu ini biasanya menyebutkan bahwa siapa saja bisa mendaftar KIS gratis secara online melalui link tertentu.
Padahal, program KIS memiliki syarat dan prosedur yang jelas melalui instansi resmi seperti Dinas Sosial atau BPJS Kesehatan. Hoaks ini berbahaya karena dapat dimanfaatkan untuk mengumpulkan data pribadi seperti NIK, KK, dan nomor telepon.
4. Hoaks yang Memanfaatkan Foto atau Video Pejabat Publik
Banyak hoaks memanfaatkan foto atau video pejabat publik, terutama yang berkaitan dengan bansos. Salah satu contoh yang sering muncul adalah penggunaan video Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa yang dipotong, diedit, atau diberi narasi palsu seolah-olah beliau mengumumkan bantuan tertentu.
Teknik ini sangat efektif menipu masyarakat karena:
-
Menggunakan figur publik yang dipercaya.
-
Video terlihat meyakinkan.
-
Narasi dibuat seolah-olah berasal dari sumber resmi.
Padahal, video tersebut sering kali merupakan rekaman lama atau hasil manipulasi konteks.
5. Hoaks Menkeu Purbaya Usul MBG Diberikan dalam Bentuk Uang
Hoaks lainnya adalah klaim bahwa Menteri Keuangan Purbaya mengusulkan kepada Presiden agar program MBG diberikan dalam bentuk uang tunai. Narasi ini beredar luas tanpa dasar resmi dan sering menimbulkan polemik di masyarakat.
Tidak ada pernyataan resmi yang membenarkan klaim tersebut. Hoaks seperti ini berpotensi mengganggu kepercayaan publik terhadap kebijakan pemerintah dan memicu kesalahpahaman.
6. Hoaks Terkait Bencana dan Manipulasi AI
Dalam situasi bencana, hoaks semakin mudah menyebar. Salah satu yang marak adalah video dan gambar hasil editan AI yang menampilkan binatang buas terbawa banjir, seolah-olah kejadian tersebut nyata.
Konten seperti ini sering:
-
Menggunakan visual dramatis.
-
Mengandalkan emosi ketakutan.
-
Tidak disertai sumber yang jelas.
Padahal, banyak di antaranya merupakan hasil rekayasa teknologi AI yang sengaja dibuat untuk viral.
7. Hoaks PBB Menetapkan Banjir Aceh sebagai Bencana Internasional
Hoaks lainnya adalah klaim bahwa PBB menetapkan banjir di Aceh sebagai bencana internasional. Informasi ini tidak pernah diumumkan secara resmi oleh PBB maupun pemerintah Indonesia. Narasi semacam ini biasanya dibuat untuk memancing perhatian dan meningkatkan penyebaran konten.
8. Hoaks Tentara Thailand Menghancurkan Gedung Sindikat Scamming di Kamboja dengan Menyebutkan yang Memasang Bendera Indonesia Merah Putih Aman dari Serangan
Isu internasional juga tak luput dari hoaks. Beredar narasi bahwa tentara Thailand menghancurkan gedung sindikat scamming di Kamboja, bahkan ada konten yang menambahkan klaim bahwa bendera Merah Putih aman dari serangan militer Thailand. Yang benar adalah beberapa Casino yang ada di perbatasan Kamboja Thailand menjadi target serangan Thailand karena diduga ada kejahatan Internasional yang bermarkas didalam Casino, tanpa ada menyebutkan bangunan yang memasang bendera Merah Putih aman dari serangan.
Narasi ini sepenuhnya tidak berdasar dan memanfaatkan sentimen nasionalisme untuk menarik emosi publik. Informasi konflik antarnegara semestinya selalu diverifikasi melalui sumber resmi dan media kredibel.
Penutup: Pentingnya Cek dan Ricek Sebelum Percaya dan Membagikan
Maraknya hoaks di media sosial menunjukkan bahwa literasi digital masyarakat masih sangat penting untuk terus ditingkatkan. Tidak semua informasi yang viral adalah benar. Banyak konten kreator yang demi mengejar like, komentar, dan popularitas, rela menghalalkan cara dengan menciptakan atau menyebarkan hoaks.
Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk:
-
Tidak mudah percaya pada informasi viral.
-
Selalu cek dan ricek kebenaran berita.
-
Membandingkan dengan sumber resmi dan media terpercaya.
-
Tidak langsung membagikan informasi yang belum terverifikasi.
Dengan sikap kritis dan bijak dalam bermedia sosial, kita dapat bersama-sama memutus rantai penyebaran hoaks dan menciptakan ruang digital yang lebih sehat dan bertanggung jawab.