Menjawab Pertanyaan Alya: Adakah Manfaat Program Pengabdian Mahasiswa Kepada Masyarakat Bagi Warga Desa?

  • Sep 06, 2025
  • Abdilla Mahardika
  • EDUKASI DAN LITERASI, SOSIAL KEMASYARAKATAN

Menjawab Pertanyaan Alya: Adakah Manfaat Program Pengabdian Mahasiswa Kepada Masyarakat oleh Universitas bagi Warga Desa?

Sebuah pertanyaan yang sederhana, terlontar begitu saja dari Alya, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang yang sedang melaksanakan kegiatan PMM di desa Jambangan. Sederhana namun menyimpan makna yang cukup dalam: “Adakah manfaat program pengabdian mahasiswa kepada masyarakat yang dilakukan universitas bagi warga desa?”

Pertanyaan ini bisa dianggap serius, tapi bisa juga hanya sebatas candaan polos. Namun bagi saya yang sudah bertahun-tahun mendampingi mahasiswa dalam kegiatan KKN (Kuliah Kerja Nyata), PMM (Pengabdian Mahasiswa Kepada Masyarakat), PKM (Pengabdian Kepada Masyarakat),  atau istilah lainnya, pertanyaan ini justru menjadi pintu masuk untuk merenung kembali: sejauh mana sebenarnya program tersebut memberi arti bagi masyarakat desa?


KKN di Era Modern: Masih Pentingkah?

Di tengah era modern seperti sekarang, desa sudah tidak lagi menjadi wilayah yang benar-benar terisolasi. Internet masuk hingga pelosok, akses transportasi semakin terbuka, dan informasi bisa didapat dengan sekali klik. Maka wajar jika muncul pertanyaan: “Apakah KKN masih relevan?”

Jawabannya bisa bercabang. Bagi yang hanya melihat luarnya saja, kegiatan KKN tidak lebih dari sekumpulan mahasiswa yang datang ke desa, membuat acara formal, lalu pergi. Namun bagi penerima manfaat langsung—baik lembaga pendidikan, UMKM, maupun masyarakat umum—KKN membawa energi baru, pengetahuan segar, serta semangat muda yang menular.

Saya yang sudah lama mendampingi mahasiswa melihat betul, ada dampak positif yang seringkali tidak terlihat kasat mata. Mulai dari bertambahnya budaya literasi di desa, transformasi pengetahuan dan teknologi, munculnya keterampilan baru, hingga terjalinnya hubungan sosial yang lebih erat antarwarga.


Dua Tujuan Pokok KKN

Dalam setiap pendampingan, saya selalu menekankan bahwa KKN punya dua sisi penting:

  1. Suksesnya program kerja mahasiswa (Proker).
    Ini jelas penting, karena menjadi salah satu tolok ukur penilaian kampus terhadap mahasiswa.

  2. Manfaat nyata bagi desa.
    Lebih penting lagi, bagaimana Proker tersebut benar-benar memberikan jejak positif di masyarakat, bukan sekadar formalitas untuk menggugurkan kewajiban laporan.

Kedua sisi ini harus berjalan beriringan. Mahasiswa mendapatkan pengalaman berharga, sementara masyarakat memperoleh manfaat yang benar-benar terasa.


Antara Sindiran dan Apresiasi

Tidak jarang, saya mendengar sindiran bernada meremehkan: “Ah, mahasiswa KKN itu cuma numpang lewat. Yang penting laporan selesai, sudah.” Anggapan ini memang ada, bahkan mungkin tumbuh karena ekspektasi masyarakat yang terlalu tinggi.

Namun di sisi lain, saya juga sering menerima apresiasi tulus dari warga penerima manfaat. Guru-guru di sekolah dasar, pengurus lembaga desa, pelaku UMKM, hingga ibu-ibu rumah tangga sering menyampaikan bahwa kehadiran mahasiswa membawa angin segar. Mereka tidak hanya merasa terbantu, tapi juga berharap kegiatan semacam ini terus ada setiap tahun.


Proker yang Menyentuh Kebutuhan Nyata

Sebelum mahasiswa turun ke desa, saya selalu mengajak mereka untuk memahami kebutuhan masyarakat lebih dulu. Diskusi dengan perangkat desa, mendengar aspirasi warga, hingga menyesuaikan ide dengan kondisi lapangan.

Contoh sederhana di bidang pendidikan: mahasiswa berkolaborasi dengan guru SD untuk memberikan tambahan pembelajaran. Bagi mahasiswa, ini hal kecil. Namun bagi anak-anak desa, kegiatan itu bisa menjadi motivasi besar untuk terus belajar.

Di bidang UMKM, mahasiswa bisa membantu pengurusan NIB (Nomor Induk Berusaha), sertifikat halal, PIRT, hingga pelatihan branding dan pemasaran digital. Hasilnya, produk lokal bisa naik kelas dan punya daya saing.

Sementara di bidang kemasyarakatan, Proker berupa seminar kesehatan, pelatihan kepemudaan, atau penyuluhan pertanian selalu mendapat sambutan hangat. Intinya, program yang lahir dari kebutuhan nyata pasti memberi dampak lebih besar.


Mengapa Ada yang Menganggap Tidak Penting?

Saya memahami jika ada orang yang beranggapan KKN sudah tidak relevan. Setidaknya ada dua penyebab:

  1. Mereka tidak pernah terlibat langsung dalam kegiatan KKN, sehingga hanya menilai dari cerita luar.

  2. Mereka berharap terlalu banyak. Ekspektasi yang tinggi membuat mahasiswa dianggap gagal memenuhi standar ideal yang mereka bayangkan.

Bagi saya, menjelaskan panjang lebar pada orang yang sudah skeptis terkadang sia-sia. Maka jawaban saya sederhana:

“Kelak anak cucuku bisa jadi mengalami seperti anak-anak KKN hari ini. Saya berharap dengan saya membantu mereka, anak cucu saya kelak juga akan dimudahkan dalam kegiatan apapun.”

Jawaban sederhana, tapi menyentuh akar dari semua ini: hidup adalah tentang memberi manfaat, bukan sekadar berharap akan manfaat.


Penutup: Manfaat yang Sesungguhnya

Jadi, jika ditanya oleh Alya apakah program KKN bermanfaat bagi warga desa, jawabannya jelas: ya, bermanfaat.

Manfaat itu mungkin tidak selalu spektakuler atau tampak di permukaan, tetapi ia hadir dalam bentuk pengetahuan baru, semangat kebersamaan, dan jembatan antara dunia kampus dengan masyarakat desa.

Di tengah derasnya arus teknologi dan informasi, justru desa masih memerlukan sentuhan langsung, interaksi tatap muka, dan nilai-nilai sosial yang dibawa mahasiswa. Karena pada akhirnya, desa bukan sekadar tempat belajar bagi mahasiswa, tapi juga ruang untuk menghidupkan nilai kemanusiaan yang sejati.


Penulis berdasarkan persepsi dan pengalaman pribadi.