Petani Bunga Grangsil: Dari Hobby Menjadi Bernilai Ekonomi
- May 06, 2025
- Wahyu Cahyono
- UMKM DAN PARIWISATA
Grangsil, Sentra Petani Bunga yang Berkembang Pesat di Desa Jambangan
Jambangan – Dusun Grangsil, sebuah kawasan kecil yang terletak di sisi timur Desa Jambangan, Kecamatan Dampit, Kabupaten Malang, kini menjelma menjadi salah satu sentra pertanian bunga paling menonjol di wilayah tersebut. Berkat tangan-tangan terampil para petaninya, Grangsil tidak hanya dikenal karena keindahan tanaman hias yang diproduksi, tetapi juga karena kontribusinya terhadap perekonomian lokal dan bahkan nasional.
Salah satu tokoh penting dalam geliat pertanian bunga di Grangsil adalah Rudi Hartono, seorang petani bunga yang sudah lebih dari satu dekade menggeluti dunia hortikultura. Di lahan miliknya yang tak terlalu luas, ia berhasil mengembangkan berbagai jenis tanaman bunga baik indoor maupun outdoor, yang kini menjadi incaran pembeli dari berbagai daerah.
"Awalnya saya hanya coba-coba menanam tanaman hias, tapi setelah melihat respons pasar yang bagus, saya mulai serius mengelola kebun bunga ini," ujar Rudi saat ditemui di kebunnya.
Beragam jenis tanaman hias tumbuh subur di tangan Rudi. Untuk tanaman indoor, ia menanam lulaiwan, spatufilum lokal dan varigata, calatea batik, serta calatea merah putih. Sementara itu, tanaman outdoor yang dikembangkannya mencakup ararea, puring, sabang darah, dan anggrek bandung. Bahkan saat ini ia juga tengah membudidayakan anggrek dengan teknik khusus agar dapat berkembang lebih optimal dan bernilai jual tinggi.
Keberhasilan para petani di Grangsil tidak lepas dari dukungan pasar yang luas. Tanaman-tanaman dari dusun ini telah menembus pasar luar daerah, terutama Bali. Para supplier dari Pulau Dewata kerap membeli bunga dari Grangsil untuk memenuhi kebutuhan proyek taman di vila-vila dan fasilitas umum. Rudi sendiri mengungkapkan pernah mendapatkan pesanan untuk proyek taman di kawasan strategis Mandalika, Nusa Tenggara Barat.
“Baru-baru ini juga ada permintaan dari supplier untuk pengiriman ke Ibu Kota Nusantara (IKN). Kami sangat bersyukur karena bunga dari Grangsil dipercaya untuk proyek besar seperti itu,” tambahnya.
Selain sebagai produsen bunga, Grangsil kini juga berkembang menjadi destinasi wisata hortikultura. Dusun ini dijuluki Kampung Bunga Grangsil oleh masyarakat dan wisatawan yang datang. Pengunjung bisa menikmati suasana sejuk khas pedesaan sambil melihat keindahan deretan tanaman hias yang tertata rapi. Banyak dari mereka yang datang tidak hanya untuk berfoto atau jalan-jalan, tetapi juga langsung membeli tanaman hias dari kebun para petani.
Inisiatif warga untuk membuka kawasan mereka sebagai tempat wisata turut meningkatkan pendapatan masyarakat setempat. Beberapa warga kini mulai menata halaman rumah mereka agar menarik pengunjung, dan tidak sedikit yang turut menjual minuman atau makanan ringan kepada wisatawan.
“Selain menjual bunga, kami juga senang bisa memperkenalkan desa kami sebagai tempat yang asri dan ramah pengunjung,” tutur salah satu warga yang juga petani bunga.
Untuk pembaca yang tertarik mengunjungi Grangsil atau ingin membeli tanaman langsung dari sumbernya, dapat menghubungi Bapak Rudi Hartono melalui nomor WhatsApp di +62 881-9556-135. Ia dengan senang hati akan memberikan informasi dan pelayanan terbaik bagi para pembeli maupun calon mitra bisnis.
Grangsil telah membuktikan bahwa desa kecil pun mampu menjadi pusat pertanian modern yang berdaya saing tinggi. Dengan kerja keras, inovasi, dan semangat gotong royong, para petani di Grangsil tidak hanya memperindah taman-taman di seluruh Indonesia, tetapi juga menanam harapan bagi masa depan pertanian lokal yang berkelanjutan.