Sosialisasi Transformasi Pendidikan: Mewujudkan Generasi Unggul, Berkarakter dan Berdaya Saing Global Berbasis Kearifan Lokal
- Mar 15, 2026
- Abdilla Mahardika
- EDUKASI DAN LITERASI
Sosialisasi Transformasi Pendidikan di SMK PGRI Turen Bahas Pembentukan Generasi Unggul Berbasis Karakter dan Kearifan Lokal
Kegiatan sosialisasi pendidikan bersama anggota DPRD Provinsi Jawa Timur, Dr. H. Puguh Wiji Pamungkas, berlangsung di SMK PGRI Turen pada Minggu (15/3). Kegiatan ini dihadiri oleh para guru, tokoh pendidikan, serta masyarakat yang memiliki perhatian terhadap perkembangan dunia pendidikan. Sosialisasi tersebut mengangkat tema “Transformasi Pendidikan di Jawa Timur: Mewujudkan Generasi Unggul, Berkarakter, dan Berdaya Saing Global Berbasis Kearifan Lokal.”
Acara dimulai dengan registrasi peserta, pembukaan, serta menyanyikan lagu Indonesia Raya. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan pemaparan materi oleh dua narasumber yang membahas berbagai tantangan pendidikan serta langkah-langkah strategis dalam membangun generasi masa depan yang unggul.
Pemateri pertama, Suryadi, menyoroti berbagai tantangan pendidikan di era digital saat ini. Salah satu tantangan yang cukup besar adalah meningkatnya ketergantungan anak-anak terhadap gadget. Menurutnya, teknologi digital sebenarnya dapat menjadi sarana pembelajaran yang sangat bermanfaat, namun jika tidak disertai pengawasan dan pendampingan dari orang tua maupun guru, penggunaan gadget justru dapat mengganggu perkembangan anak.
Ia menjelaskan bahwa anak-anak saat ini sering menghabiskan waktu lebih banyak di depan layar dibandingkan berinteraksi dengan lingkungan sekitar. Hal tersebut berpotensi mempengaruhi perkembangan sosial, emosional, dan kebiasaan belajar anak. Oleh karena itu, peran keluarga dan sekolah menjadi sangat penting dalam mengarahkan penggunaan teknologi agar tetap memberi manfaat bagi perkembangan pendidikan.
Dalam pemaparannya, Suryadi juga menekankan pentingnya membangun generasi unggul yang tidak hanya memiliki kecerdasan akademik, tetapi juga karakter yang kuat. Generasi unggul harus memiliki keseimbangan beberapa aspek kecerdasan, yaitu kecerdasan intelektual (IQ), kecerdasan emosional (EQ), kecerdasan spiritual (SQ), serta kemampuan menghadapi tantangan hidup atau Adversity Quotient (AQ).
Selain itu, generasi masa depan juga harus memiliki kemampuan literasi digital dan literasi finansial agar mampu menghadapi perkembangan teknologi serta tantangan ekonomi global. Menurutnya, kecerdasan intelektual memang penting, namun kecerdasan emosional memiliki pengaruh yang sangat besar dalam menentukan keberhasilan seseorang dalam kehidupan.
Pada kesempatan tersebut, ia juga memberikan pesan kepada para orang tua agar selalu memberikan perhatian dan pendidikan yang terbaik bagi anak-anaknya. “Didiklah anak dengan sepenuh hati, karena pendidikan anak tidak hanya menjadi tanggung jawab sekolah, tetapi juga keluarga,” ujarnya.
Sementara itu, pemateri kedua, Herman Ali Sadikin, memaparkan tentang pentingnya transformasi pendidikan sebagai upaya menyesuaikan sistem pendidikan dengan perkembangan zaman. Menurutnya, transformasi pendidikan harus dilakukan secara menyeluruh, mulai dari kurikulum, metode pembelajaran, kompetensi guru, hingga pemanfaatan teknologi dalam proses pendidikan.
Transformasi kurikulum harus mampu menyesuaikan dengan kebutuhan zaman, tidak hanya menekankan pada hafalan, tetapi juga kemampuan berpikir kritis, kreativitas, serta kemampuan memecahkan masalah. Metode pembelajaran juga perlu dikembangkan menjadi lebih interaktif dan inovatif sehingga siswa dapat terlibat aktif dalam proses belajar.
Selain itu, Herman juga menekankan pentingnya peningkatan kompetensi guru agar mampu mengikuti perkembangan metode pembelajaran modern. Pemanfaatan teknologi digital dalam pendidikan juga menjadi salah satu faktor penting yang harus terus dikembangkan agar proses belajar mengajar menjadi lebih efektif dan relevan dengan perkembangan zaman.
Lebih lanjut, Herman menegaskan bahwa transformasi pendidikan harus diimbangi dengan pendidikan berbasis karakter. Nilai-nilai seperti integritas, tanggung jawab, disiplin, kepedulian sosial, serta nilai religius harus menjadi bagian penting dalam proses pendidikan.
Ia juga mengutip pandangan ulama besar Islam, Abu Hamid Al-Ghazali, yang menyatakan bahwa tujuan pendidikan bukan hanya mencetak manusia yang berilmu, tetapi juga mewujudkan manusia yang memiliki akhlak mulia. Pemikiran tersebut dinilai sangat relevan dengan kondisi pendidikan saat ini, di mana kecerdasan harus diimbangi dengan moral dan etika yang baik.
Di akhir pemaparannya, Herman menjelaskan bahwa generasi unggul harus memiliki tiga pondasi utama, yaitu karakter yang kuat, kemampuan berdaya saing global, serta tetap berakar pada nilai-nilai kearifan lokal. Nilai-nilai tersebut antara lain budaya gotong royong, religiusitas, tradisi pesantren, serta budaya sopan santun yang menjadi ciri khas masyarakat Indonesia.
Melalui kegiatan sosialisasi ini diharapkan para pendidik, orang tua, dan masyarakat dapat bersama-sama berperan dalam membangun generasi muda yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki karakter kuat serta mampu bersaing di tingkat global tanpa meninggalkan nilai-nilai budaya dan kearifan lokal. Dengan demikian, transformasi pendidikan diharapkan mampu melahirkan generasi masa depan yang unggul, berakhlak mulia, dan siap menghadapi tantangan zaman.