KIM Wonderful Jambangan: Refleksi Menjelang Pergantian Tahun 2025–2026 dan Resolusi 2026

  • Dec 31, 2025
  • Abdilla Mahardika
  • BAKTI KIM

Refleksi Menjelang Pergantian Tahun 2025–2026 dan Resolusi 2026

Komunitas Informasi Masyarakat Wonderful Jambangan

Menjelang pergantian tahun 2025 menuju 2026, adalah waktu yang tepat untuk berhenti sejenak, menoleh ke belakang, lalu bertanya dengan jujur: sejauh mana langkah telah diayunkan, dan ke mana arah akan dituju. Bagi Komunitas Informasi Masyarakat (KIM) Wonderful Jambangan, momen ini bukan sekadar ritual tahunan, melainkan ruang refleksi yang sarat makna, luka, harapan, dan keteguhan.

KIM Wonderful Jambangan lahir dari semangat kepemudaan desa Jambangan, Kecamatan Dampit, Kabupaten Malang. Terbentuk pada awal Maret 2023, komunitas ini secara resmi mendapatkan Surat Keputusan Kepala Desa pada tanggal 11 Juni 2023 dan dilaunching pada 13 Juli 2023. Sejak awal, KIM ini dirancang sebagai wadah partisipasi warga, khususnya pemuda, untuk mengambil peran dalam meningkatkan literasi digital, mengangkat potensi desa, mendukung digitalisasi desa, serta menjadi jendela informasi desa—baik ke dalam maupun ke luar.

Komunitas ini terdiri dari perwakilan masing-masing dusun: Jegong, Krajan, Sumbersari, dan Grangsil. Dengan keterbatasan sarana namun berbekal semangat, KIM Wonderful Jambangan mengelola berbagai kanal informasi digital, mulai dari media sosial seperti Instagram, Facebook, TikTok, dan YouTube, hingga website resmi Pemerintah Desa, website KIM, serta sebuah blog yang difungsikan sebagai cadangan dan penguat distribusi informasi.

Hampir tiga tahun perjalanan KIM Wonderful Jambangan bukanlah cerita lurus tanpa gelombang. Ia adalah kisah naik turun, jatuh bangun, sebagaimana umumnya sebuah organisasi berbasis relawan. Anggota datang dan pergi, semangat kadang menguat, kadang merapuh. Namun hingga detik ini, KIM Wonderful Jambangan masih bertahan—kokoh, meski sering kali tanpa sandaran.

Dukungan pemerintah desa, yang oleh sebagian orang disebut “setengah hati”, menjadi dinamika tersendiri. Di sisi lain, dukungan masyarakat justru terasa luar biasa. Support dari lembaga pendidikan, keagamaan, dan kepemudaan menjadi energi yang menjaga nyala api komunitas tetap hidup. Ironisnya, di tengah dukungan itu, KIM sering berada dalam posisi dilematis: disebut sebagai corong pemerintah desa, bahkan oleh Kepala Desa dalam beberapa forum disebut sebagai “HUMAS-nya Desa”, namun pada praktiknya hampir tidak pernah memiliki akses informasi yang memadai terkait kegiatan dan progres pemerintahan desa.

Banyak yang menertawakan kondisi ini—padahal sesungguhnya tidak lucu sama sekali. Pertanyaan pun mengemuka: apa yang sebenarnya terjadi ketika KIM sebagai media informasi desa justru “mandul” dalam menyampaikan informasi dari pemerintah desa kepada masyarakat?

Setidaknya, ada beberapa persoalan mendasar yang tak bisa diabaikan. Pertama, komunikasi yang buruk antara KIM dan pemerintah desa, ditandai dengan lambannya respons dan kurangnya saling menghargai. Kedua, pemerintah desa yang lamban dan hampir tidak pernah mau tahu dinamika internal KIM, padahal secara struktural berperan sebagai pembina dan penanggung jawab yang seharusnya mampu menjadi payung pengayom. Ketiga, munculnya perasaan di kalangan anggota KIM bahwa keberadaan mereka tidak benar-benar dibutuhkan, tercermin dari minimnya akses informasi, tidak dilibatkannya KIM dalam kegiatan-kegiatan penting desa, serta diabaikannya permintaan peralatan penunjang untuk peningkatan kapasitas anggota dan kualitas media. Alasan-alasan yang disampaikan pihak pemerintah desa mungkin terasa wajar dan benar dari sudut pandang mereka, namun bagi banyak orang justru terkesan lucu dan mengada-ada.

Padahal, berbagai prestasi telah diraih oleh KIM Wonderful Jambangan di tingkat kabupaten. Sayangnya, capaian tersebut nyaris sepi dari apresiasi. Alih-alih mendapat dukungan moral, yang datang justru sering kali tanggapan sinis. Puncaknya terjadi memasuki pertengahan tahun 2025, ketika jarak antara KIM dan pemerintah desa terasa semakin menganga. Beberapa anggota mulai berani izin keluar dari grup—entah karena keputusasaan, kejenuhan, atau rasa malas yang berakar dari perasaan tidak dianggap.

Masyarakat pun terbelah. Sebagian menyayangkan kondisi ini, karena masih berharap KIM tetap ada, berdaya, dan berdampak dalam meningkatkan literasi digital, menjadi media informasi antarwarga, serta menjadi benteng dari merebaknya hoaks. Sebagian lainnya justru tertawa sinis sambil bergumam, “Dari awal kan sudah saya bilang, nggak akan kuat bertahan dengan sistem hari ini.”

Lantas, apa harapan untuk tahun 2026? Selalu ada asa, meskipun hari-hari terasa seperti menapaki jalan terjal. Ada satu kalimat yang terus menguatkan langkah: “Hidup yang dipenuhi kemudahan adalah hidup yang tak layak untuk dijalani.” Dari keyakinan inilah, mulai pertengahan Desember 2025, admin KIM memulai sesuatu yang baru dengan mengesampingkan pemberitaan terkait kegiatan kepemerintahan desa Jambangan.

Sebuah ironi, memang. Namun apa boleh buat, ketika pintu dialog dan diskusi seolah tertutup rapat, dan akses informasi terasa “tidak boleh disebarluaskan”. Sebuah blog baru pun dirilis, dan KIM Wonderful Jambangan kembali memposisikan diri—bukan lagi sebagai HUMAS-nya Desa, melainkan sebagai penyambung informasi dari dan untuk masyarakat. Sebuah langkah sunyi, namun penuh kesadaran.

Berharap pada keajaiban? Tentu saja. Meski berpuluh asa dan berpuluh harapan telah patah, keyakinan bahwa kerja-kerja kecil yang jujur akan menemukan jalannya sendiri masih terus dipelihara. Tahun 2026 bukan tentang mengulang luka, melainkan tentang menata ulang arah, memperkuat akar, dan kembali kepada ruh awal: mengabdi pada masyarakat, bukan pada kepentingan semu.

Akhir kata, segenap keluarga besar Komunitas Informasi Masyarakat Wonderful Jambangan mengucapkan Selamat merayakan Tahun Baru 2026 kepada seluruh masyarakat Desa Jambangan. Semoga tahun yang baru membawa kesehatan, kebijaksanaan, keberanian untuk berubah, dan ruang dialog yang lebih manusiawi demi desa yang lebih terbuka, berdaya, dan berkeadaban.