Mengenal Kelompok Kesenian Bantengan "Mberot" Lembu Jatisari Dari Dusun Sumbersari Desa Jambangan

  • Apr 22, 2025
  • Abdilla Mahardika
  • TRADISI DAN BUDAYA, HIBURAN

Mengenal Kelompok Kesenian Bantengan “Lembu Jatisari” dari Dusun Sumbersari, Desa Jambangan

Di tengah arus modernisasi yang terus bergerak, masih ada bara semangat yang menyala dari pelosok-pelosok desa untuk menjaga warisan budaya leluhur. Salah satunya adalah hadirnya kelompok kesenian tradisional Bantengan, atau yang lazim disebut Mberot, yang berdiri di Dusun Sumbersari, Desa Jambangan, Kecamatan Dampit. Kelompok ini bernama “Lembu Jatisari”, dan sejak berdirinya pada tahun 2023, mereka telah menjadi ikon baru dalam pelestarian seni budaya lokal di kawasan tersebut.

Kelompok ini dibentuk tidak hanya sebagai wadah ekspresi seni, tetapi juga sebagai bagian dari ikhtiar masyarakat dalam menjaga dan menghidupkan kembali nilai-nilai tradisional yang mulai tergerus oleh zaman. Nama “Lembu Jatisari” sendiri mengandung makna filosofis yang kuat. “Lembu” merujuk pada sosok banteng sebagai simbol keberanian dan kekuatan dalam kesenian Bantengan. “Jati” diambil dari kata “Jaten”, yang merujuk pada kawasan hutan jati di sebelah selatan dusun Sumbersari, sedangkan “Sari” adalah potongan dari nama Sumbersari, menandakan akar identitas lokal dari kelompok ini.

Struktur Kepengurusan dari Lembu Jatisari pun cukup solid. Sebagai pelindung kelompok adalah Kepala Desa Jambangan, Eko Budi Cahyono, ST, yang memberikan dukungan penuh dalam menjaga eksistensi seni tradisional ini. Penanggung jawab kegiatan dan operasional adalah Kepala Dusun Sumbersari, Bapak Sukirno bersama perangkat dusun Sumbersari lainnya yang dikenal dekat dengan warganya dan aktif dalam setiap kegiatan kebudayaan. Kepemimpinan langsung berada di tangan Bapak Jamiyo, selaku Ketua kelompok, yang dengan penuh dedikasi mengoordinasikan seluruh anggota yang kini berjumlah 56 personil.

Tujuan utama dari kelompok ini adalah melestarikan seni dan budaya lokal, khususnya kesenian Bantengan yang telah menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat Jawa Timur, terutama di wilayah pegunungan. Kesenian ini bukan sekadar hiburan, tetapi juga sarat nilai spiritual dan historis yang mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat.

Tak lengkap membahas Lembu Jatisari tanpa menyinggung unsur mistik yang sering menyatu dalam kesenian Bantengan. Di dusun Sumbersari, terdapat sosok spiritual yang dipercaya sebagai danyang dusun, yakni Ki Ageng Prawirosari, tokoh legendaris yang dianggap sebagai orang pertama yang membuka hutan belantara dan membangun pemukiman yang kini dikenal sebagai Dusun Sumbersari. Tempat bersejarah ini dikenal dengan nama Ringinsari, dan menjadi titik spiritual yang dipercaya memberikan kekuatan dan perlindungan terhadap masyarakat setempat.

Setiap penampilan Lembu Jatisari bukan hanya sekadar pertunjukan, melainkan juga perwujudan dari kekuatan tradisi yang telah diwariskan turun-temurun. Gerakan yang dinamis, iringan musik yang khas, serta unsur magis dari para penari yang kerasukan atau “ndadi”, menjadi daya tarik yang memukau, sekaligus mengandung makna mendalam tentang hubungan manusia dengan leluhur dan alam.

Kelompok ini rutin tampil dalam berbagai acara desa, seperti sedekah bumi, peringatan hari besar nasional, maupun dalam hajatan masyarakat. Dukungan dari warga sekitar sangat tinggi, termasuk dari generasi muda yang kini mulai terlibat aktif sebagai bagian dari tim musik, penari, maupun tim logistik.

Dengan semangat kolektif dan komitmen tinggi terhadap budaya, kelompok Lembu Jatisari membuktikan bahwa warisan budaya tidak akan punah selama masih ada yang merawatnya. Harapan besar tertumpu pada mereka untuk terus menghidupkan denyut tradisi di tengah tantangan zaman. Mojopahit mungkin telah runtuh, namun semangat dan nilai luhur budayanya terus hidup di tempat-tempat seperti Dusun Sumbersari.