Tradisi Kupatan Lebaran di Dusun Sumbersari: Antara Warisan Leluhur dan Perubahan Zaman
- Mar 27, 2026
- Abdilla Mahardika
- Cerita Rakyat dan Sejarah
Tradisi Kupatan Lebaran di Dusun Sumbersari: Antara Warisan Leluhur dan Perubahan Zaman
Hari Raya Idul Fitri selalu menjadi momen yang penuh makna bagi umat Islam. Selain sebagai hari kemenangan setelah menjalani ibadah puasa selama sebulan penuh, Idul Fitri juga identik dengan berbagai tradisi yang berkembang di tengah masyarakat. Di Dusun Sumbersari, Desa Jambangan, terdapat sebuah tradisi unik yang dahulu sangat kental, khususnya pada masa sebelum tahun 1990-an, yakni tradisi kupatan lebaran yang erat kaitannya dengan penanggalan Jawa.
Pada masa itu, masyarakat Sumbersari masih banyak yang mengikuti perhitungan hari raya berdasarkan versi Jawa yang dikenal dengan Islam Aboge. Dalam praktiknya, penentuan Hari Raya Idul Fitri seringkali berbeda satu hingga dua hari lebih lambat dibandingkan dengan penetapan hari raya secara umum. Akibatnya, suasana lebaran di dusun ini terasa lebih panjang dan memiliki nuansa yang khas.
Salah satu tradisi yang paling menonjol adalah kupatan lebaran yang dilaksanakan sekitar satu minggu setelah tanggal 1 Syawal versi penanggalan Jawa. Tradisi ini tidak hanya sekadar menyajikan makanan khas seperti ketupat, lontong, dan lepet untuk keluarga, tetapi juga memiliki makna yang lebih luas, yakni sebagai bentuk syukur yang melibatkan hewan ternak, khususnya sapi dan kerbau.
Pada pagi hari sebelum pelaksanaan kupatan, warga biasanya sudah disibukkan dengan kegiatan memandikan hewan ternak mereka di sungai. Suasana pagi yang masih gelap dipenuhi oleh aktivitas warga yang berbondong-bondong membawa sapi atau kerbau menuju sungai. Kegiatan ini bukan sekadar membersihkan hewan, tetapi juga diyakini sebagai simbol penyucian dan harapan akan keberkahan.
Setelah itu, warga melanjutkan dengan membersihkan peralatan rumah tangga, terutama yang digunakan dalam kegiatan sehari-hari. Peralatan tersebut dicuci bersih dan kemudian didiamkan selama hari raya berlangsung sebagai bentuk penghormatan terhadap momen sakral tersebut. Selama hari raya, aktivitas rumah tangga pun cenderung dihentikan sementara, menciptakan suasana yang lebih khidmat.
Menariknya, dalam tradisi ini, hewan ternak juga mendapatkan “bagian” dari perayaan. Ketupat, lontong, dan lepet yang telah disiapkan tidak hanya dinikmati oleh manusia, tetapi juga diberikan kepada hewan peliharaan. Selain itu, pakan ternak sudah dipersiapkan sebelumnya agar selama hari raya, pemilik tidak perlu lagi disibukkan dengan mencari pakan. Semua ini mencerminkan hubungan harmonis antara manusia, alam, dan hewan dalam kehidupan masyarakat saat itu.
Namun, seiring berjalannya waktu, terutama memasuki era tahun 2000-an ke atas, tradisi ini mulai mengalami pergeseran. Perkembangan zaman, kemajuan teknologi, serta meningkatnya pemahaman keagamaan membuat sebagian masyarakat mulai meninggalkan tradisi yang dianggap tidak lagi relevan. Generasi muda, khususnya yang lahir setelah tahun 1980-an, banyak yang tidak lagi mengenal secara mendalam makna dari tradisi kupatan tersebut.
Saat ini, tradisi kupatan lebaran di Dusun Sumbersari masih tetap ada, tetapi tidak lagi terikat pada waktu yang baku seperti dahulu. Pelaksanaannya lebih fleksibel, tidak harus menunggu satu minggu setelah 1 Syawal versi Jawa. Yang terpenting, tradisi tersebut tetap dilakukan setelah Hari Raya Idul Fitri sebagai bentuk kebersamaan dan rasa syukur.
Meskipun sebagian lingkungan masih mempertahankan tradisi lama, namun secara umum, praktik kupatan lebaran telah mengalami penyederhanaan. Kenduri ketupat tetap menjadi bagian penting, tetapi makna simbolis yang dahulu melekat perlahan mulai memudar.
Tradisi ini menjadi pengingat bahwa budaya lokal adalah bagian dari identitas masyarakat yang terus bergerak mengikuti zaman. Menjaga nilai-nilai baik dari tradisi, sembari menyesuaikannya dengan perkembangan pemahaman, menjadi tantangan tersendiri bagi generasi saat ini agar warisan leluhur tidak sepenuhnya hilang ditelan waktu.