Catcalling: Perilaku Tidak Beretika yang Mengancam Kenyamanan dan Ketertiban Sosial

  • Apr 15, 2026
  • Abdilla Mahardika
  • EDUKASI DAN LITERASI

Catcalling: Perilaku Tidak Beretika yang Mengancam Kenyamanan dan Ketertiban Sosial

Fenomena catcalling dalam beberapa waktu terakhir semakin sering dijumpai di berbagai ruang publik. Perilaku ini tidak hanya dilakukan oleh kalangan remaja, tetapi juga oleh sebagian laki-laki dewasa. Bentuknya beragam, mulai dari siulan, panggilan bernada menggoda, hingga komentar terhadap penampilan seseorang yang sering kali mengandung unsur merendahkan atau berkonotasi seksual. Ironisnya, masih banyak pelaku yang menganggap tindakan ini sebagai hal biasa, sekadar candaan, atau bahkan bentuk pujian. Padahal, dalam sudut pandang etika dan norma sosial, catcalling merupakan tindakan yang tidak pantas dan berpotensi merugikan orang lain.

Secara umum, catcalling dapat diartikan sebagai bentuk perhatian yang tidak diinginkan yang ditujukan kepada seseorang di ruang publik. Tindakan ini sering kali terjadi secara sepihak tanpa mempertimbangkan perasaan korban. Bagi sebagian orang, mungkin terlihat sepele, namun bagi korban, pengalaman ini bisa meninggalkan rasa tidak nyaman yang mendalam. Tidak sedikit korban yang merasa dilecehkan, direndahkan, bahkan terancam hanya karena menjadi sasaran komentar atau perilaku yang tidak pantas.

Dampak negatif dari catcalling sangat nyata, terutama bagi korban. Rasa risih, malu, dan tidak aman sering kali muncul setelah mengalami kejadian tersebut. Dalam jangka panjang, korban dapat mengalami penurunan rasa percaya diri dan meningkatnya kecemasan saat berada di luar rumah. Bahkan, beberapa korban memilih untuk membatasi aktivitasnya di ruang publik demi menghindari potensi mengalami hal serupa. Kondisi ini tentu tidak sehat, baik secara psikologis maupun sosial, karena setiap individu seharusnya memiliki kebebasan untuk beraktivitas tanpa rasa takut.

Dari sisi kehidupan bermasyarakat, catcalling mencerminkan rendahnya kesadaran terhadap etika dan norma kesopanan. Dalam budaya Indonesia yang menjunjung tinggi nilai saling menghormati, perilaku seperti ini jelas bertentangan dengan prinsip tersebut. Ketika tindakan ini dibiarkan, maka akan terbentuk lingkungan sosial yang tidak ramah, bahkan cenderung mengancam rasa aman, khususnya bagi perempuan. Hal ini juga dapat merusak citra masyarakat itu sendiri yang seharusnya menjunjung tinggi adab dalam berinteraksi.

Lebih jauh lagi, catcalling juga berpotensi menimbulkan konflik yang lebih besar. Dalam beberapa kasus, korban atau orang di sekitarnya yang tidak terima dapat bereaksi dengan menegur pelaku. Jika tidak disikapi dengan bijak, situasi ini dapat berkembang menjadi pertengkaran hingga perkelahian. Bahkan, dalam konteks hukum, tindakan catcalling dapat dikategorikan sebagai bentuk pelecehan verbal yang dapat diproses sesuai peraturan yang berlaku. Hal ini menunjukkan bahwa tindakan yang awalnya dianggap sepele bisa berujung pada konsekuensi hukum yang serius.

Oleh karena itu, penting bagi setiap individu untuk memahami batasan dalam bersikap dan berucap di ruang publik. Menghormati orang lain bukan hanya soal sopan santun, tetapi juga bagian dari tanggung jawab sebagai anggota masyarakat. Pendidikan karakter harus terus diperkuat, baik dalam lingkungan keluarga maupun sosial, agar generasi muda memiliki kesadaran yang tinggi terhadap pentingnya menjaga etika.

Pada akhirnya, catcalling bukanlah kebiasaan yang bisa dibenarkan. Ini adalah bentuk perilaku negatif yang harus dihentikan bersama. Dengan meningkatkan kesadaran, menumbuhkan rasa empati, serta menjunjung tinggi nilai-nilai kesopanan, masyarakat dapat menciptakan lingkungan yang lebih aman, nyaman, dan beradab bagi semua pihak.