Istighosah dan Tahlil Qubro Se-Dusun Sumbersari Berlangsung Khidmat, KH Anas Fauzy Tekankan Tiga Modal Utama Menuntut Ilmu
- Jul 19, 2026
- Wahyu Cahyono
- SOSIAL KEMASYARAKATAN , KEAGAMAAN
MALANG – Suasana religius menyelimuti kediaman Bapak Bandi dan Ibu Wiwik di RT 24 RW 05, Dusun Sumbersari, Desa Jambangan, Kecamatan Dampit, Kabupaten Malang, pada Minggu (19/7/2026). Warga dari berbagai lingkungan di Dusun Sumbersari berkumpul dalam kegiatan Istighosah dan Tahlil Qubro sebagai bagian dari upaya mempererat ukhuwah Islamiyah sekaligus meningkatkan keimanan dan ketakwaan masyarakat.
Rangkaian kegiatan diawali dengan pra-acara berupa pembacaan sholawat bersama yang dipimpin oleh Majelis Sholawat Nurrul Mustofa Sumbersari. Lantunan sholawat yang menggema di lokasi acara menciptakan suasana penuh kekhusyukan dan menjadi pembuka yang menyejukkan hati sebelum memasuki agenda utama.
Acara resmi dibuka dengan pembacaan Surah Al-Fatihah yang dipimpin oleh Sahabat iCha selaku pembawa acara. Selanjutnya, pembacaan ayat suci Al-Qur'an disampaikan oleh Sahabat Alfiatu Nur Faizah. Bacaan Al-Qur'an yang dilantunkan dengan tartil memberikan nuansa religius yang semakin memperkuat kekhidmatan kegiatan.
Memasuki inti acara, jamaah mengikuti rangkaian Istighosah dan Tahlil Qubro yang dipimpin oleh Ustadzah Rianah. Seluruh peserta tampak khusyuk memanjatkan doa, dzikir, dan tahlil bersama sebagai bentuk ikhtiar spiritual memohon keberkahan, keselamatan, serta ketenteraman bagi keluarga, masyarakat, dan bangsa.
Dalam kesempatan tersebut, Kepala Desa Jambangan, Eko Budi Cahyono, menyampaikan sambutan mengenai pentingnya menjaga persatuan dan kerukunan di tengah kehidupan bermasyarakat. Menurutnya, kegiatan keagamaan seperti istighosah dan tahlil bukan hanya menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT, tetapi juga memperkuat tali silaturahmi antarwarga.
Ia menegaskan bahwa kerukunan merupakan modal utama dalam membangun kehidupan masyarakat yang harmonis. Melalui kebersamaan dalam kegiatan keagamaan, diharapkan semangat gotong royong, saling menghormati, dan kepedulian sosial dapat terus terpelihara di lingkungan Desa Jambangan.
Sambutan berikutnya disampaikan oleh Ustadz Eko Wahyono. Dalam kesempatan itu disampaikan apresiasi kepada seluruh panitia, jamaah, dan masyarakat yang telah berpartisipasi sehingga berbagai rangkaian kegiatan, termasuk santunan pada bulan Muharam, dapat terlaksana dengan baik dan lancar. Momentum Muharam diharapkan menjadi penguat semangat berbagi, kepedulian sosial, dan kebersamaan di tengah masyarakat.
Puncak kegiatan diisi dengan Mauidzoh Hasanah yang disampaikan oleh KH Anas Fauzy dari Jabung, Kabupaten Malang. Dalam tausiyahnya, beliau mengajak jamaah untuk terus semangat dalam menuntut ilmu agama sebagai bekal menjalani kehidupan.
KH Anas Fauzy menyampaikan bahwa terdapat tiga modal utama dalam menjalankan proses belajar agama atau ngaji. Ketiga hal tersebut adalah atine (hati), pikirane (pikiran), dan lakune (perilaku atau tindakan).
Hati yang bersih menjadi fondasi agar ilmu mudah diterima dan diamalkan. Pikiran yang terbuka diperlukan untuk memahami ilmu secara benar dan bijaksana. Sementara itu, perilaku yang baik merupakan bentuk nyata dari ilmu yang telah dipelajari sehingga memberikan manfaat bagi diri sendiri maupun lingkungan sekitar.
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa keberhasilan seseorang dalam menuntut ilmu tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan, tetapi juga dipengaruhi oleh kebersihan hati, kesungguhan berpikir, dan konsistensi dalam mengamalkan ilmu dalam kehidupan sehari-hari.
Kegiatan berlangsung dengan tertib dan penuh kekhusyukan hingga akhir acara. Seluruh rangkaian kemudian ditutup dengan doa yang dipimpin langsung oleh KH Anas Fauzy, memohon keberkahan, keselamatan, kesehatan, serta persatuan bagi seluruh masyarakat Dusun Sumbersari dan Desa Jambangan.
Melalui penyelenggaraan Istighosah dan Tahlil Qubro ini, masyarakat kembali menunjukkan semangat kebersamaan dalam menjaga tradisi keagamaan yang telah lama menjadi bagian dari kehidupan sosial. Kegiatan semacam ini diharapkan terus menjadi sarana memperkuat nilai-nilai spiritual, mempererat silaturahmi, serta menumbuhkan kepedulian antarwarga dalam membangun masyarakat yang rukun, damai, dan religius.