Sisi Lain Tahlil Akbar Desa Jambangan: Merawat Persaudaraan, Menggerakkan Ekonomi dan Memperkuat Sinergi Ulama dan Umaro
- May 31, 2026
- Abdilla Mahardika
- INFO PEMERINTAHAN , SOSIAL KEMASYARAKATAN , KEAGAMAAN
Sisi Lain Tahlil Akbar Desa Jambangan: Merawat Persaudaraan, Menggerakkan Ekonomi, dan Menguatkan Sinergi Ulama-Umaro
Di balik khidmatnya lantunan tahlil, doa-doa yang mengalun syahdu, serta ribuan jamaah yang memadati lokasi kegiatan, Tahlil Akbar Muslimat dan Fatayat NU Desa Jambangan ternyata menyimpan banyak cerita menarik yang tidak selalu tampak di atas panggung acara. Ada sisi lain yang justru menjadi kekuatan utama kegiatan ini, yakni tumbuhnya persaudaraan, terjalinnya komunikasi yang hangat, hingga bergeraknya roda perekonomian masyarakat secara alami.
Kegiatan yang mempertemukan warga dari seluruh penjuru Desa Jambangan ini bukan sekadar agenda keagamaan rutin. Lebih dari itu, Tahlil Akbar menjadi ruang perjumpaan yang mempertemukan berbagai elemen masyarakat dalam suasana penuh kekeluargaan. Tokoh agama, tokoh masyarakat, pemerintah desa, pengurus organisasi keagamaan, hingga masyarakat umum duduk bersama tanpa sekat, menikmati suasana yang hangat dan penuh kebersamaan.
Salah satu pemandangan yang paling menarik adalah bertemunya jajaran Pemerintah Desa Jambangan dengan para ulama, tokoh masyarakat, dan warga dari berbagai dusun. Dalam kehidupan sehari-hari, kesibukan masing-masing sering kali membuat ruang pertemuan menjadi terbatas. Namun melalui kegiatan seperti ini, komunikasi dapat terjalin dengan lebih santai dan alami. Tidak ada jarak yang membatasi. Semua larut dalam suasana kebersamaan yang tulus.
Di sisi lain, kegiatan ini juga membawa dampak ekonomi yang cukup terasa bagi masyarakat. Sejak sebelum acara dimulai, sejumlah pelaku UMKM tampak memanfaatkan momentum tersebut dengan membuka lapak dagangan. Berbagai makanan ringan, minuman, hingga kebutuhan jamaah lainnya laris diserbu pengunjung. Keramaian yang tercipta secara otomatis menggerakkan perputaran ekonomi lokal. Mungkin nilainya tidak selalu besar, namun bagi para pedagang kecil, kegiatan seperti ini menjadi berkah tersendiri yang patut disyukuri.
Tidak kalah penting, Tahlil Akbar juga menjadi sarana mempererat hubungan antarjamaah dari berbagai dusun. Warga Dusun Grangsil, Krajan, Jegong, maupun pedukuhan lainnya berbaur menjadi satu. Mereka saling menyapa, bercengkerama, dan berbagi cerita. Hubungan sosial yang terjalin selama ini semakin diperkuat melalui pertemuan-pertemuan semacam ini.
Desa Jambangan yang secara geografis terbagi ke dalam empat pedukuhan seakan kehilangan batas-batasnya pada malam itu. Tidak ada lagi sekat yang memisahkan. Semua hadir dengan identitas yang sama sebagai warga Jambangan yang memiliki tujuan bersama untuk menjaga kerukunan, memperkuat persaudaraan, dan membangun desa yang lebih baik.
Namun dari sekian banyak sisi menarik yang muncul, ada satu hal yang paling mencuri perhatian, yakni keakraban yang terjalin antara Pemerintah Desa Jambangan dengan jajaran pengurus Nahdlatul Ulama, baik di tingkat ranting, anak ranting, maupun Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC NU) Kecamatan Dampit.
Suasana akrab itu tampak begitu jelas sepanjang kegiatan berlangsung. Di sela-sela acara, berbagai obrolan ringan mengalir tanpa dibuat-buat. Diskusi tentang masyarakat, pembangunan desa, kegiatan keagamaan, hingga berbagai persoalan sosial dibahas dalam suasana santai yang jauh dari kesan formal dan kaku.
Yang menarik, obrolan tersebut tidak hanya berisi pembahasan serius. Humor-humor segar justru menjadi bumbu yang membuat suasana semakin hidup. Sesekali, KH. Mashuri selaku Rois Syuriah MWC NU Kecamatan Dampit melontarkan candaan khas yang sederhana namun mampu mengundang gelak tawa hadirin. Candaan yang spontan itu seolah mencairkan suasana dan membuat seluruh peserta merasa dekat satu sama lain.
Tawa pun pecah di berbagai sudut tempat kegiatan. Bahkan sosok H. Fatchurrozy yang selama ini dikenal tenang, kalem, dan cenderung pendiam, tampak beberapa kali ikut tersenyum lebar menikmati suasana yang penuh kehangatan tersebut. Kehadiran para tokoh agama dalam suasana santai seperti itu memberikan pesan bahwa kebersamaan tidak selalu harus dibangun melalui forum resmi, tetapi juga melalui perjumpaan-perjumpaan sederhana yang penuh keikhlasan.
Suasana serupa juga terlihat dari sosok Ustadz Samsul Muarif ketua Tanfidziah MWC NU Kecamatan Dampit dan Ustadz Ahmad Junaedi ketua Ranting NU Desa Jambangan yang aktif berbaur dengan jamaah dan para tokoh yang hadir. Begitu pula dengan Pak Gito selaku Kepala Dusun Grangsil yang pada kesempatan tersebut mewakili Kepala Desa Jambangan, Eko Budi Cahyono, yang berhalangan hadir karena agenda lain yang tidak dapat ditinggalkan. Kehadiran mereka menunjukkan bahwa komunikasi antara unsur pemerintahan dan organisasi kemasyarakatan berjalan dengan baik dan harmonis.
Momen-momen sederhana seperti saling bercanda, berbincang santai, hingga menikmati hidangan bersama mungkin terlihat biasa bagi sebagian orang. Namun sesungguhnya, dari sanalah kepercayaan dan sinergi dibangun. Dari suasana yang hangat itulah lahir kesepahaman dalam menyikapi berbagai persoalan masyarakat. Dari kebersamaan yang tulus itu pula muncul kekuatan untuk bergerak bersama membangun desa.
Hubungan yang harmonis antara ulama dan umaro merupakan modal sosial yang sangat berharga bagi Desa Jambangan. Ketika para pemimpin agama dan pemimpin pemerintahan dapat berjalan berdampingan, saling mendukung, dan saling menguatkan, maka berbagai program kemasyarakatan akan lebih mudah diwujudkan. Stabilitas sosial terjaga, kerukunan masyarakat semakin kokoh, dan cita-cita mewujudkan kehidupan yang aman, damai, serta sejahtera menjadi lebih mudah dicapai.
Tahlil Akbar Muslimat dan Fatayat NU Desa Jambangan akhirnya tidak hanya meninggalkan jejak berupa doa-doa yang terpanjatkan kepada Allah SWT. Lebih dari itu, kegiatan ini menghadirkan energi kebersamaan yang memperkuat ikatan sosial masyarakat. Ia menjadi bukti bahwa sebuah acara keagamaan mampu menghadirkan manfaat yang jauh lebih luas: mempererat persaudaraan, menggerakkan ekonomi rakyat, menyatukan seluruh pedukuhan dalam satu keluarga besar Jambangan, serta memperkokoh sinergi ulama dan umaro yang selama ini menjadi fondasi penting bagi kemajuan desa.
Dan mungkin, justru inilah sisi paling indah dari Tahlil Akbar tersebut: ketika doa-doa yang dilantunkan tidak hanya menggema di langit, tetapi juga menjelma menjadi persaudaraan yang tumbuh di bumi Jambangan.