Survey Lokasi Program Jagawana 4.0 BEM Unair di Desa Jambangan: Harapan Baru untuk Konservasi Lingkungan

  • Sep 07, 2025
  • Abdilla Mahardika
  • EDUKASI DAN LITERASI, BAKTI KIM

Survey Lokasi Program Jagawana 4.0 BEM Universitas Airlangga di Desa Jambangan: Harapan Baru untuk Konservasi Lingkungan

Jambangan – Desa Jambangan, Kecamatan Dampit, Kabupaten Malang, mendapat kunjungan istimewa dari tim Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Airlangga Surabaya dalam rangka survei lokasi program Jagawana 4.0. Kegiatan ini berlangsung pada Sabtu siang, 6 September 2025, sebagai tindak lanjut dari komunikasi awal melalui audiensi daring antara Aflakhah Auliaul Aghnia, Koordinator Humas dan Perizinan Kementerian Lingkungan Hidup BEM Unair, dengan pihak Humas KIM Wonderful Jambangan.

Setelah perbincangan via WhatsApp beberapa hari sebelumnya, tepat pukul 13.00 WIB, tujuh mahasiswa yang tergabung dalam tim survei tiba di Desa Jambangan. Mereka disambut oleh para pegiat desa dari KIM Wonderful Jambangan dan diarahkan menuju Basecamp Lintas Angkasa sebagai titik awal koordinasi. Di sana, mereka menunggu kesiapan pihak Pemerintah Desa Jambangan, khususnya Kepala Desa Eko Budi Cahyono, ST, untuk melakukan pertemuan resmi. Ada hal yang cukup mengagetkan bahwa BEM Unair mendapatkan nomer kontak Humas Wonderful bukan dari Website resmi desa seperti sebelumnya, tetapi dari Website KIM Wonderful Jambangan sendiri yang mana desa Jambangan mempunyai dua website yakni Website desa dan website komunitas Wonderful Jambangan meskipun pengelolaan masih satu atap di Komunitas Informasi Masyarakat Wonderful Jambangan.

Diskusi Awal dan Audiensi dengan Kepala Desa

Koordinasi awal di Basecamp Lintas Angkasa berlangsung singkat namun penuh kehangatan. Setelah itu, tim mahasiswa bersama sahabat Wonderful Jambangan bergerak menuju rumah Kepala Desa Jambangan untuk melakukan audiensi utama.

Pertemuan yang berlangsung lebih dari dua jam tersebut membahas secara detail rencana pelaksanaan Jagawana 4.0. Kepala desa menyambut baik kehadiran tim BEM Unair sekaligus menyampaikan harapannya agar Desa Jambangan bisa terpilih sebagai salah satu lokasi pelaksanaan program.

“Program ini akan menjadi energi baru bagi masyarakat kami, terutama dalam hal kesadaran menjaga lingkungan. Semoga Desa Jambangan bisa menjadi bagian dari Jagawana 4.0,” ujar Eko Budi Cahyono.

Masukan dari Pegiat Desa

Dalam diskusi tersebut, pegiat desa juga menyampaikan masukan. Wahyu Cahyono, salah satu relawan Wonderful Jambangan yang aktif dalam kegiatan sosial kemasyarakatan, menekankan pentingnya perhatian terhadap Sumberbantal, yakni sumber mata air utama yang menjadi penopang kehidupan warga Dusun Krajan dan Dusun Jegong.

“Sumberbantal bukan hanya sumber air bagi warga desa Jambangan, tapi juga menyuplai kebutuhan irigasi untuk area persawahan di desa sekitar. Kami berharap lewat program Jagawana, konservasi di area ini mendapat sentuhan nyata. Lebih dari itu, kami ingin ada peningkatan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga lingkungan yang bersih, terawat, dan lestari,” jelas Wahyu.

Kunjungan ke Bendungan Sumberbantal

Setelah audiensi di rumah kepala desa, tim mahasiswa Unair bersama tim dari Wonderful Jambangan melanjutkan perjalanan ke bendungan Sumberbantal. Lokasi ini menjadi salah satu titik fokus yang direncanakan masuk dalam target utama program Jagawana 4.0, mengingat perannya yang vital bagi keberlanjutan sumber daya air di wilayah Desa Jambangan.

Kunjungan ke Sumberbantal sekaligus menjadi langkah awal untuk memetakan permasalahan lingkungan yang ada, mulai dari kondisi fisik bendungan, kualitas air, hingga keterlibatan masyarakat dalam menjaga kelestarian lingkungan di sekitar sumber mata air.

Apa itu Program Jagawana 4.0?

Menurut penjelasan tim BEM Universitas Airlangga, Jagawana adalah singkatan dari Jaga Alam Nusantara. Program ini merupakan agenda pengabdian masyarakat tahunan yang digagas oleh Kementerian Lingkungan Hidup BEM Unair sejak tahun 2018. Hingga kini, program sudah memasuki edisi keempat yang disebut Jagawana 4.0.

Jagawana berfokus pada upaya pelestarian lingkungan dengan basis edukasi, pemberdayaan masyarakat, dan aksi nyata di lapangan. Tujuannya adalah mendorong masyarakat desa untuk memiliki kesadaran kolektif dalam menjaga kelestarian alam. Namun, program ini tidak hanya terbatas pada aspek lingkungan. Di dalamnya juga terdapat program pendukung lain, seperti kesehatan masyarakat, pendidikan, serta pengembangan sosial budaya.

Melalui pendekatan multidisiplin, Jagawana 4.0 diharapkan mampu memberikan dampak jangka panjang bagi masyarakat desa, tidak hanya dari sisi ekologi, tetapi juga kesejahteraan sosial secara menyeluruh.

Harapan Besar untuk Desa Jambangan

Apabila Desa Jambangan terpilih sebagai lokasi pelaksanaan, maka diperkirakan sekitar 80 mahasiswa Universitas Airlangga akan hadir dan menetap di desa selama sepuluh hari. Mereka akan berbaur dengan warga mulai tanggal 28 Oktober hingga 6 November 2025. Selama periode tersebut, berbagai kegiatan akan dilaksanakan, mulai dari aksi konservasi, penyuluhan, hingga kegiatan sosial yang melibatkan langsung masyarakat desa.

Bagi masyarakat Desa Jambangan, program ini menjadi kesempatan besar untuk memperkuat gerakan pelestarian lingkungan, terutama dalam menjaga sumber mata air Sumberbantal yang sangat vital. Selain itu, adanya interaksi dengan mahasiswa diharapkan mampu memberikan inspirasi baru dan memperluas wawasan masyarakat mengenai pentingnya menjaga keseimbangan alam.

“Harapan terbesar kami bukan hanya pada keberlanjutan program, tapi pada tumbuhnya kesadaran bersama. Kalau masyarakat sudah sadar, maka alam akan lebih terjaga,” pungkas Kepala desa Eko Budi Cahyono menutup diskusi siang itu.

Penutup

Survei lapangan yang dilakukan pada Sabtu siang itu menjadi langkah awal menuju kolaborasi besar antara mahasiswa Universitas Airlangga dan masyarakat Desa Jambangan. Dengan semangat gotong royong dan kepedulian lingkungan, Desa Jambangan berpeluang menjadi contoh nyata desa yang berdaya menjaga alamnya sekaligus memperkuat kualitas hidup warganya.

Program Jagawana 4.0 diharapkan bukan hanya sekadar kegiatan seremonial, tetapi benar-benar menjadi warisan gerakan yang meninggalkan dampak positif, baik bagi masyarakat desa maupun bagi generasi mendatang.